Rihlah dan Tadabur Alam di Raja Ampat

Perintah Allah yang pertama kali turun adalah “Bacalah!”. Alam raya ini laksana perpustakaan Ilahi yang penuh pelajaran dan hikmah. Bumi merupakan perantara bagi manusia untuk mengenal Allah (ma’rifatullah) dan mengetahui ilmu Allah (‘ilmullah). Tadabur alam merupakan sarana untuk lebih mengenal Allah sang pencipta langit dan bumi serta segala isinya.

 Kita diperintahkan untuk mentadaburi Al-Qur’an sesuai dengan firman Allah Swt dalam surat Shad [38] ayat 29: “Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran. Lebih lanjut Hasan Al-Bashri menjelaskan tentang tadabur ini bahwa “Demi Allah, tadabbur Al-Qur’an bukan dengan menghafal huruf-hurufnya namun mengabaikan batasan-batasannya, sehingga ada yang mengatakan, ‘Aku telah membaca semua Al-Qur’an’, namun Al-Qur’an tidak terlihat pada akhlak dan amalnya”.

Tadabur alam bukan hanya sekadar jalan-jalan menikmati pemandangan alam, tapi jauh lebih dalam. Alam raya merupakan sarana manusia untuk bisa mempelajari banyak hal, terutama mengenai hakikat penciptaan dan kehidupan kita.

Dalam Al-Jatsiyah [45] ayat 13 Allah Swt berfirman “Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.” Ayat ini menunjukan bahwa manusia memiliki hak dan kekuasaan mutlak untuk memanfaatkan alam. Namun sebagai khalifah (wakil) Allah di bumi, manusia memiliki amanah dan tanggung jawab untuk menjaga dan memakmurkan bumi beserta isinya. Perbuatan manusia di bumi akan dipertanggungjawabkan pada Hari Perhitungan  (Yaumul Hisab). Ajaran Islam sebagai rahmatan lil‘alamin, agama yang  menjadikan rahmat bagi seluruh alam semesta tidak terkecuali manusia, juga seluruh organisme bersel, tumbuh-tumbuhan, dan hewan yang hidup di darat, di laut maupun di udara.

Allah memerintahkan manusia untuk bertafakur yaitu berfikir atau bertadabur dengan memandang sesuatu dibalik sesuatu dan memahami akibat yang akan ditimbulkannya. Hal tersebut dilakukan melalui segala isyarat-isyarat, gejala-gejala dibalik peristiwa itu untuk dapat diambil manfaat dari pemahamannya. Perenungan ini dilakukan melalui segala kejadian ataupun dari suatu pengalaman inderawi di alam semesta agar timbul kesadaran bahwa dibalik itu ada zat yang maha kuasa, yang maha agung, dan yang maha bijaksana yaitu sang pencipta dan pengatur, Allah Swt.

Ciri menonjol pada orang yang beriman dan berakal adalah  orang yang mampu memahami tanda-tanda dan bukti-bukti kekuasaan sang Pencipta tersebut. Pergantian siang dan malam, perubahan musim dari dingin ke panas, gugur, dan semi, dari hujan ke kemarau, semua ini adalah tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah Swt bagi orang yang berpikir. Orang beriman menyadari bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, tiap ciptaan dan kejadian memiliki hikmah tertentu. Oleh karenanya orang beriman akan memahami kekuasaan dan kesempurnaan ciptaan Allah dalam berbagai bentuk dan kejadian.

Pemahaman atas tanda-tanda (ayat-ayat) ini pada akhirnya menghantarkan orang beriman pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada Allah Swt. Ia adalah termasuk golongan yang berakal. Allah berfirman dalam surat Ali Imran [3] ayat 190-191: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

Pada ayat ini disebutkan Ulul Albab (orang-orang yang berakal). Siapakah orang-orang ini? Diterangkan pada ayat selanjutnya “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Firman Allah tersebut tidak hanya mengharuskan kita tadabur ayat Al-Qur’an atau ayat-ayat qauliyyah[1], tapi juga tadabur alam berupa ayat-ayat kauniyyah[2]. Tadabur ayat menjadi lengkap bila disertai dengan tadabur alam yang sangat sarat dengan tanda-tanda kekuasaan, kebesaran, dan keagungan Allah.

Tadabur ayat dan tadabur alam sama-sama bernilai ibadah. Tadabur ayat mengantarkan kita pada pemahaman dan pemaknaan tekstual Al-Qur’an. Sedangkan tadabur alam membimbing kita untuk memahami secara kontekstual atas ayat-ayat kehidupan dan kejadian di alam raya yang penuh hikmah. Tadabur ayat dan alam memotivasi kita untuk selalu membaca, meneliti, memahami dan mengaktualisasikan diri kita menjadi hamba yang pandai bersyukur. Allah Swt berfirman dalam surat Al-Furqon [25] ayat 62: “Kami telah menciptakan siang dan malam silih berganti agar itu dapat digunakan untuk merenung dan bersyukur”.

Bertadabur dengan alam, tidak hanya menumbuhkan rasa syukur tapi juga mempertebal keyakinan pada kebesaran Allah Swt. Menyampaikan rasa cinta pada Allah bisa dilakukan dengan menjelajah bumi Allah karena di bumi-Nya yang luas terhampar beragam pengetahuan dan hikmah. Allah yang mengajarkan ilmu yang memberikan hikmah yaitu berupa kumpulan keutamaan dan kemuliaan pada pemiliknya. Seperti firman-Nya pada Al-Baqarah [2] ayat 32: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.“

Dengan demikian, seorang hamba disebut hamba yang pandai bersyukur, jika selalu melakukan tadabur ayat-ayat qauliyyah sekaligus dengan ayat-ayat kauniyyah secara terpadu dan seimbang. Merasakan dan memahami kebesaran Allah tidak cukup dengan ibadah ritual seperti shalat, tapi harus pula melalui penelitian dan perenungan terhadap aneka kebesaran dan keagungan ciptaan Allah di alam raya ini.

 

[1] Ayat-ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan Allah Swt di dalam Al Qur’an. Ayat-ayat ini melingkupi berbagai aspek, termasuk cara mengenal Allah.

[2] Ayat-ayat kauniyah adalah ayat atau tanda wujud di sekeliling yang diciptakan Allah Swt. Ayat-ayat ini dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada di alam yang menjadi tanda kerahmatan dan keagungan Allah Swt.

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *